i told you so

good friends never say ‘i told you so.’. kira-kira begitu kalimat dari kartu ultah keluaran American Greetings yang pernah gue beli buat sohib gue lebih dari satu dasawarsa yang lalu. kata-kata itu begitu membekas di benak gue karena sampai sekarang gue nggak juga bisa menahan diri untuk tidak bilang, ‘tuh kan, apa gue bilang?’

sebagai sahabat yang baik, gue selalu berusaha menjadi pendengar yang baik sekaligus penasehat yang bijak. tapi ya siapa sih gue ini? ortu bukan, dianggap guru juga nggak pantas wong cuma teman yang sama-sama sotoy. jadi wajar saja kalau nasehat yang menurut gue udah superbrilian itu cuma jalan-jalan santai lewat dua lubang telinga. bablas! dan ketika orang yang gue khotbahin itu tertimpa masalah karena nggak mau menuruti nasehat gue, waduh, setengah mati gue berusaha mengendalikan lidah gue yang sudah ingin melontarkan kalimat pamungkas ‘gue bilang juga apa!’ dengan kandungan 40% rasa puas yang disebabkan kecanggihan gue dalam mencari solusi, 35% rasa bangga yang diakibatkan narsisme diri setelah menang dalam pertandingan semu antara dua pihak yang sama sekali tidak bisa disebut bermusuhan, 20% rasa jengkel karena tidak didengarkan dan 5% rasa lain-lainnya.

rasa lain-lainnya itu apa sih?
1. sedih melihat masalah yang menimpa teman gue itu seharusnya nggak perlu terjadi seandainya dia mengikuti petuah gue.
2. kasihan menyaksikan teman gue menderita
3. menyesal karena tidak berusaha lebih keras supaya teman gue lebih mendengarkan ocehan gue
4. capek setelah dengan susah payah menahan diri bilang ‘i told you so.’, tapi gagal juga

gue ngerti banget kenapa pesaing Hallmark itu memilih tema judul di atas dalam salah satu kartu ultahnya. karena gue sendiri nggak betah kalau harus berkali-kali mendengar kalimat yang melampiaskan segala rasa itu. sudah sial masih juga harus kena hukuman tambahan. apalagi kalau yang ngomong gayanya belagu bin sok tuwir. lagian gue kan nggak budek, dengar sekali juga sudah tahu. tapi ya memang kadang gue lupa…

di usia gue yang lumayan bangkotan ini susah lho buat merubah kebiasaan sok bijak dan sok tau. tapi yang jelas gue masih berjuang untuk nggak menghakimi teman sendiri. kecuali pas gue lupa…

Advertisements

3 thoughts on “i told you so

  1. wah bagus jg nih idenya, barusan nonton film yang ceritain tentang “i told you so” jadi kebayang lagi judulnya The Mentalist cuma seri brp lupa 😀

    Btw Themenya emang agak suram tapi keliatan bagus 😀

    film apa sih, Den? serial tv? suram, tapi bagus? ehm, makacih ya 😀
    baru sehari gue udah ganti theme lagi 😛

  2. unggul damayanti says:

    “di usia gue yang lumayan bangkotan ini susah lho buat merubah kebiasaan sok bijak dan sok tau. tapi yang jelas gue masih berjuang untuk nggak menghakimi teman sendiri. kecuali pas gue lupa…”

    hahahha..semangat..tuh kan “apa gw bilang”

    hayah… 😛

  3. meo says:

    kayak jaman kuliah dulu, say… hehehehhe
    tapi best friend tuh sekalipun ngomongnya gitu, di telinga yang bener2 best friend ya kuduna gak kedengeran spt menghakimi lahh…

    tergantung sikonnya, mak. kalo lagi kusut diomongin gitu ya kadang bisa bikin mangkel juga lho biarpun ngerti maksud si best friend nda menghakimi 😛
    seneng juga akhirnya lu mampir. sering2 kemari ya mak 😆
    btw kartu dari gue itu masih lu simpen gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s