tak ada yang abadi

gue nggak pernah suka perpisahan. bukan karena gue tipe cewek sentimentil bin melankolis, wong gue jarang melalui perpisahan dengan hati remuk redam diiringi curahan deras air mata. bahkan kadang perpisahan berlalu begitu saja tanpa disadari dan biasanya akan disesali di kemudian hari. namun bukan hanya penyesalan yang membuat gue merasa nggak nyaman dan terus menyayangkan mengapa hal itu harus terjadi, tapi terutama karena rasa kehilangan akan sesuatu yang dulunya ada 😦 .
akhir-akhir ini gue digempur banyak perpisahan. yang paling banyak di lingkungan kantor yang boleh dibilang rumah gue kedua karena di sana lah gue menghabiskan 10-12 jam setiap harinya. beberapa teman sekerja nggak lagi bisa gue jumpai batang hidungnya. mereka memilih pergi dengan berbagai alasan, mayoritas karena diiming-imingi imbalan yang nominalnya lebih surgawi 😀 , tapi ada juga yang terpaksa pergi karena terlibat masalah kriminal akibat menginginkan harta benda milik teman sendiri tanpa permisi 😡 . memang, nggak semuanya akrab dengan gue, tapi tetap saja gue kehilangan kehadiran mereka seberapa pun menyebalkannya mereka. senyum ceria, ledakan tawa renyah hingga cengiran sengak dan celetukan menyebalkan yang biasanya mewarnai hari-hari kami nggak pernah hilang dari kenangan.

kemudian gue juga harus berpisah dengan pembantu yang sudah mengabdi di keluarga gue sejak gue berumur setahun. dengan berat hati kami merelakan mantan pengasuh gue itu pergi untuk menikmati masa pensiun 😥 . tawaran untuk tetap tinggal hanya untuk menjaga rumah ditampiknya demi mendekatkan diri pada anak-cucu-buyut yang selama ini nggak saling akur dan tak jarang memorotinya. walau nggak rela, tapi kami harus menghormati pilihannya dan pintu rumah selalu terbuka bila kapanpun dia ingin kembali.

kehilangan ternyata nggak berlaku sebatas pada kehadiran sesama manusia saja, tapi juga pada situasi. munculnya seorang big boss baru di group yang berkarakter sinting membuat gue mengangeni kondisi yang selama ini sering gue keluhkan. maklum saja sekarang gue pulang makin larut hingga mendekati tengah malam, tapi masih juga belum bisa memenuhi sederet dateline yang ditetapkan oleh si gelo yg pushy, demanding dan ketagihan mengocehi orang lain hingga berbusa-busa itu 😛 .

mungkin gue pecinta status quo sehingga menyikapi segala perubahan dengan negatif. padahal gue sendiri menyadari kalau tidak semua perpisahan itu buruk dan lagi yang hilang biasanya tergantikan oleh yang baru. gue juga nggak bisa menghindari proses adaptasi dan menolak kompromi. karena hidup terus berjalan dan rutinitas kantor pun nggak akan berhenti cuma gara-gara gue nggak suka dengan situasi yang ada.

jadi kenapa gue mendadak serius gini? karena blog gue ganti kulit lagi? 😆
bukan atuh, gue kan mendukung perubahan sejauh ke arah yang lebih baik 🙂  . tulisan gue bermuram durja gene gara2 gue masih berjuang menjinakkan stress akibat proses adaptasi yang cukup melelahkan. maklum usia emang nggak bisa bohong 😀 .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s