rasa sesal yang absurd

seminggu sudah berlalu sejak gue kehilangan tamu istimewa. sesosok makhluk mungil yang nggak pernah gue harap kedatangannya namun kehadirannya yang hanya sekejap ternyata mampu membuat gue gelisah memikirkannya.

minggu lalu, sekitar pukul sembilan malam, gue dan misua berjalan pulang dari supermarket. tiba-tiba seekor anak kucing berlari getol dari seberang jalan ke arah kami. mulanya kami pikir dia akan berlalu begitu saja seperti kucing-kucing lainnya, rupanya tidak. anak kucing belang tiga itu membaui tas plastik kresek yang kami bawa dan berjalan di antara kaki-kaki kami sampai-sampai kami ngeri dia terinjak.

lucunya dia seperti mengerti protes kami. dia menjauh sejenak untuk kemudian mengikuti kami dan lama-lama malah mendahului kami dengan gaya sok tahu. tiap kali kami berhenti, dia ikut berhenti, menoleh lalu menghampiri kami sambil mengeong-ngeong seperti berujar, ‘cepetan, udah malem nih. gue kan laper.’ karena iba melihat kekerasan hatinya demi sesuap nasi, kami putuskan untuk membawanya pulang meski ragu. nyokap nggak suka kucing, dia paling sebal mendengar eongan kucing lapar dan bulu rontok di mana-mana. selain itu waktu kecil gue pernah diminta menjauhi segala hewan berbulu karena nyaris kena bronchitis.

setibanya di depan pagar rumah, dia tertegun mendengar dengkingan memelas anjing tetangga yang minta diajak jalan-jalan di luar karena sudah kebelet beol. dia juga tampak ciut melihat anjing lain di rumah sebelah yang reputasinya beken sebagai catkiller (korbannya sudah banyak dengan wujud sisa kucing berleher remuk dan mata melejit keluar) sedang mendelik mengincarnya. buru-buru kugiring dia masuk rumah.

ternyata benar si kecil kelaparan. perutnya sampai bunyi waktu makan nasi + udang goreng (karena kebetulan nggak punya lauk ikan) yang kami beri. makannya pelan-pelan dan sering berhenti. tubuh dekilnya tampak ringkih. setelah makan dia terlelap di atas meja teras, tapi beberapa saat kemudian waktu kami tengok, dia sudah menghilang. ya mungkin saja dia berhasil menerobos keluar pagar untuk menikmati kebebasan dengan perut kenyang. jadi kami nggak perlu lagi repot-repot mengusirnya keluar.

pagi harinya begitu bangun, gue yang masih penasaran langsung pergi ke teras memanggil-manggil puss dekil itu. mendadak terdengar eongan dan sebentuk kepala nongol dari balik pohon kembang soka kuning di dekat pagar. bujret! rupanya semalaman dia bobo di antara batang-batang pohon.

di luar dugaan, nyokap membuatkan susu bagi si kecil. lagi-lagi minumnya nggak habis dan malah memilih bercanda manja dengan gue. ndusel-ndusel di kaki gue dan matanya merem-melek bila kepalanya dielus-elus. tiba-tiba gue jadi sedih. kasian bener si puss kesepian ini, kenapa dia salah memilih manusia. tahukah dia kalau sebentar lagi gue akan ‘menendangnya keluar’? apa dia mendekati kami hanya karena tas plastik kresek mengingat dia juga menyambut pembokat gue yang baru pulang dari pasar dengan cara yang sama? apa dia merasa kecewa saat pembokat gue menjinjing tengkuknya dan membuangnya ke luar?

sekarang gue menyesal crying_anim02.gif . tiap keluar rumah selalu berharap ketemu lagi dengan si kecil dekil. namun hingga saat ini dia nggak menampakkan diri lagi. mungkin dia telanjur sakit hati. melihat kesedihan gue, misua bilang ‘seandainya dia bukan anak kucing, tapi anak kecil, belum tentu lu akan segitu pedulinya ya.’

benar juga. kenapa gue lebih merasa tersentuh dengan anak kucing daripada anak manusia? tapi tetap saja sindiran lembut itu belum mampu menghapus rasa sesal ini. ditambah lagi setelah mendengar temen kantor bilang kalau kucing belang tiga adalah penjaga tuan yang setia dan persentase kucing jantan belang tiga adalah 1:1000. apa gue sudah membuang kesempatan langka yang bisa jadi akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan dalam hidup gue?

Advertisements

married with no children? why not?

Satu dasawarsa sudah kami lalui tanpa anak. Tidak seperti yang orang lain kira, kami tidak pernah meributkan soal anak. Kami sangat bahagia hidup berdua. Jarang cekcok, tiap hari selalu berbagi cerita yang berujung pada tawa. Tiap minggu kami berwisata boga di pelosok Jakarta sambil berangkulan dan bergandengan tangan. Rasanya seperti orang pacaran saja. Dan kami sangat mensyukurinya. Kami tak pernah menyalahkan Tuhan atau menuduh salah satu tidak subur. Mungkin Tuhan tahu orang seperti kami yang tidak suka anak kecil bahkan menganggap mereka sebagai beban hidup tak pantas menjadi orang-tua.

Anak bagi kami seperti bunga mawar, indah dipandang tapi sulit untuk memeliharanya. Selain itu menurut kami, anak adalah investasi yang beresiko sangat tinggi dan menuntut kesabaran tingkat tinggi yang tidak kami berdua miliki. Kami paling tidak tahan melihat anak kecil meraung-raung hingga bergulingan di lantai mal karena tak dibelikan mainan. Mendengar percakapan orang tentang mahalnya uang sekolah membuat kami semakin mantap dengan niat kami untuk terus mengisi sisa hidup dengan berdua saja. Apalagi melihat berita tentang rusaknya pergaulan anak sekarang. Kami tak siap bila harus menghadapi anak yang sudah diasuh dan dididik dengan susah-payah dengan harapan agar menjadi anak yang berguna, ternyata hanya menjadi parasit yang menggerogoti hati.

Dan kami tidak ingin memaksakan diri dengan memiliki satu anak saja hanya karena ingin dibilang lelaki sejati atau perempuan sempurna. Dangkal sekali pemikiran seperti itu, kesejatian lelaki atau kesempurnaan perempuan tidak diukur dari berhasil tidaknya menghasilkan keturunan. Kalau begitu apa bedanya dengan kucing? Manusia baru bisa digelari sehebat dan semulia itu kalau sudah berhasil mendidik anak2 mereka menjadi anak yang berbudi dan berbakti pada Tuhan, orang-tua dan sesama.

Namun kami masih tak berani juga terang2an memproklamirkan keinginan kami. Semua orang pasti akan menghujat kami, mengatai kami egois, menuduh kami murtad dsb. Ada pula yang mempertanyakan siapa yang akan merawat kami di saat tua nanti. Buat kami, anak bukanlah babysitter meski kami dengan sukarela dan penuh cinta bertekat merawat kedua orang-tua kami sampai kapan pun. Kami juga sadar kalau orang-tua kami berpandangan seperti kami maka kami tidak akan pernah hadir di dunia ini, tapi inilah yang terbaik menurut kami.

Susahnya orang-tua kami sangat mendambakan cucu dari kami. Tapi apakah kami harus mengorbankan kebahagiaan kami demi orang-tua sekalipun? Kami anak baik, belajar dan bekerja sebaik mungkin. Kami tak pernah menyusahkan orang-tua dengan membebani mereka dengan hutang berjibun atau mengasari mereka dengan kata-kata pedas. Atau merusak reputasi mereka dengan terlibat masalah tak senonoh. Apa kami salah bila kami ingin bahagia dengan cara sendiri?

Tujuan kami menikah adalah ingin berbagi rasa dan saling menemani untuk selamanya, bukan untuk memproduksi keturunan. Sampai kini kami masih bertahan dan saling menyabarkan bila basa-basi yang paling basi menggempur: `Kapan kalian punya anak?`. Ingin sekali aku berujar Tuhan memberi kita akal budi supaya kita bisa memilih antara yang baik dan yang jelek, antara benar dan salah. Hidup itu penuh pilihan. Nah, apakah pilihan kami itu jelek dan salah, itu sudah keputusan kami.

Bukankah kebahagiaan yang paling penting dalam hidup?