“friends are the family we choose for ourselves”

sering terjadi sahabat lebih kenal baik-busuknya gue daripada keluarga sendiri. karena buat gue, sahabat tak hanya sekedar pelengkap penderita di kala kesepian, penghibur di kala duka dan penggembira di kala suka, tapi jauh lebih dari itu. sahabat adalah live diary, tempat curhat interaktif sekaligus polisi yang berani menegur dan menjewer di kala kita sengaja menyesatkan diri. intinya, sahabat begitu berharga bagi gue  .

sayangnya, sahabat adalah harta yang paling sulit gue jaga. sudah berkali-kali gue kehilangan sahabat. ada yang hilang karena dibajak pihak lain, ada yang perlahan-lahan menghilang karena tersedot kesibukan dan ada pula yang sengaja melenyapkan diri karena salah paham yang berujung pada sakit hati  .

menurut pengamatan dan pengalaman gue, pernikahan adalah salah satu faktor utama penyebab hilangnya sahabat karena biasanya kita memposisikan sang partner hidup sebagai sahabat utama. belum lagi kesibukan mengurus anak yang begitu menyita waktu. bisa dimaklumi bila tak ada lagi waktu buat sahabat karena keluarga nomor satu. gue pun sudah mentahbiskan misua menjadi sahabat, tapi gue masih butuh teman bicara lain. tidak semua hal bisa dibagikan dengan pasangan hidup, some things are better left unsaid  .

untungnya, gue nggak cuma mengalami kehilangan karena sahabat yang telah pergi tergantikan oleh sahabat baru. terus begitu, sahabat datang dan pergi seturut waktu yang berjalan. gue bersyukur masih cukup banyak orang yang bersedia berbagi suka-duka dan mempercayakan rahasia hidupnya yang terdalam pada gue dan begitu pula sebaliknya.

meski demikian mencari dan mendapat sahabat baru pun tak mudah. bukan soal jenis kelamin, umur atau hal-hal yang menyangkut sara yang menyebabkan sulitnya mendapat sahabat baru melainkan proses untuk memperoleh kepercayaan mutlak dan kesesuaian irama hati.

gue menyadari betul kalau friendship maintenance gue lemah. wong kadang gue sendiri yang menyebabkan sahabat gue ngacir entah ke mana. lontaran kekecewaan dari sahabat apalagi pertengkaran selalu membawa gue pada introspeksi. “apa salah gue?” gue nggak ngerti apa lagi yang kurang dari gue mengingat gue sudah berusaha menjadi pendengar yang baik dan penasihat yang kritis.

lucunya, baru akhir-akhir ini gue menyadari betapa annoying-nya gue. rupanya cara gue menanggapi curhat itu terlalu outspoken. pertanyaan-pertanyaan gue lebih mirip interogasi polisi, terlalu detail sehingga kurang berkenan di hati lawan bicara terutama yang sedang sensitif dan bad mood. padahal gue hanya ingin membantu dengan cara mengetahui duduk masalah dengan benar, gue sama sekali nggak berniat menyakiti hati siapa pun  .

kepada sahabat-sahabat gue di mana pun kalian berada gue ingin minta maaf kalau gue malah menambah masalah bukannya memberi solusi. di bawah ini ada sebuah puisi pendek buat kalian. ini bukan karangan gue, tapi hasil copas entah dari mana

when you’re lonely,
i wish you love.
when you’re down,
i wish you joy.
when you’re troubled,
i wish you peace.
when things are complicated,
i wish you simple beauty
when things are chaotic,
i wish you inner silence.
when things look empty,
i wish you hope

Advertisements