Pendi

kerinduan gue pada Pendi yang terkadang menelusup di hati tanpa permisi makin menjadi setelah liburan panjang kemarin berlalu dengan begitu cepat. bukannya gue nggak menikmati dan mensyukuri jeda panjang dari rutinitas sehari-hari yang melelahkan itu, namun seminggu terlalu singkat. ibaratnya baru foreplay, belum sampai maincourse apalagi desserts  sehingga pagi ini gue memulai hari dengan setengah hati  . rasanya belum rela meninggalkan kehangatan peraduan yang menawarkan kenikmatan surgawi sekaligus duniawi. membuat gue harus berjuang mengumpulkan serpihan semangat demi deadline yang sudah meneror  .

kondisi ini jauh berbeda dari masa gue ber-having fun bersama Pendi. saat itu gue benar-benar menikmati kebebasan gue semaksimal mungkin, sesuatu yang mustahil bisa gue lakukan saat ini. mungkin dari tadi kalian bertanya-tanya siapa sih Pendi itu? yang benar bukan siapa, melainkan apa. Pendi itu singkatan pensiun dini yang pernah menjadi pilihan hidup gue selama 8 tahun. gue sendiri nggak pernah merencanakan mengambil jalan menikmati hidup dengan penuh kontemplasi alias nganggur dan betah menjalaninya selama itu.

semua ini berawal dari goncangnya kantor gue yang lama akibat krismon satu dasawarsa yang lalu. situasi yang tidak kondusif ditambah lagi seretnya order membuat downsizing menjadi pilihan utama pihak manajemen. waktu itu gue disodori 3 pilihan: 1, pindah ke cabang middle-east di dubai; 2, bertahan menjadi satu2nya accounting staff cabang jakarta yang artinya sama dengan kerja rodi dan yang ke-3 mengambil paket golden handshake sebelum menjadi orang terakhir yang tersisa. karena waktu itu gue masih pengantin baru yang lagi manja2nya dan merasa nggak bisa hidup jauh dari belahan hati selain berpikir kapan lagi mendapat duit sebanyak itu  maka gue memilih yang terakhir.

dan waktu berjalan tanpa terasa seperti pencuri dengan ilmu gendam, menghipnotis dengan ilusi memabukkan lalu berlalu begitu saja. apa kalian tahu serial jepang ‘long vacation’ itu? hidup gue seperti dua tokoh utama dorama itu. tiap hari keleleran tanpa tujuan, tapi tanpa minum bir tentunya karena gue nggak kuat minum  . banyak orang yang bertanya bagaimana bisa gue betah menganggur selama itu? jujur saja, gue sendiri juga nggak tahu karena misua sama sekali nggak melarang gue kerja  . mungkin karena gue bukan orang yang ambisius atau bisa jadi karena gue terlalu egois. tapi buat gue Pendi bukan berarti tanpa hasil. ccs gue yang 7 seri itu adalah salah satu masterpiece dari pengendapan segala intisari perenungan mesum gue selama hidup dengan Pendi   .

lalu mengapa setelah berhibernasi hingga otak nyaris berkarat, mendadak gue memutuskan turun gunung untuk bekerja lagi? entah mengapa gue tergoda untuk kembali ke dunia nyata. meski belum sampai taraf banting tulang demi sesuap nasi, baru sampai memeras keringat itu pun karena untel-untelan di halte busway yang pengap. namun gue menikmatinya meski kenangan akan Pendi selalu menggoda gue…

Advertisements