tulus

sebagai anak bungsu, meski tidak terlalu dimanja, gue terbiasa dengan kondisi menerima daripada memberi. baru setelah dewasa, gue menemukan kenyataan kalau memberi dan berbagi bisa mendatangkan kebahagiaan yang lebih dalam dari sekedar menerima. gue sangat menikmati ekspresi gembira dan ucapan terima kasih dari para penerima pemberian gue. kalaupun para penerima adalah orang yang mungkin tidak akan pernah gue temui, ekspresi mereka sering terukir oleh imajinasi secara otomatis.

 

namun kadangkala gue hanya bisa mengelus dada bila pemberian gue tidak ditanggapi seperti yang gue harapkan. tidak dipergunakan dengan semestinya, tidak diterima dengan baik apalagi ditolak mentah-mentah. padahal gue sudah berusaha keras memberi yang terbaik bagi mereka. dan pemberian gue – entah itu berupa barang, jasa atau nasehat – sudah mengkonsumsi waktu, tenaga dan uang yang tidak sedikit.

 

“kalau benar lu memberi dengan tulus, seharusnya lu nggak akan pernah kecewa. karena lu melakukannya dengan sukarela dan nggak berharap balasan apa-apa. jangan pernah mau tahu dengan nasib pemberian lu. mau disimpan, dipakai atau dibuang itu hak mereka sepenuhnya karena mereka pemiliknya. lu sama sekali nggak berhak protes apalagi ikut campur.”

 

begitu nasehat pedas salah seorang sohib gue menanggapi keluh-kesah gue tentang bagaimana kecewanya gue karena sudah memberi sesuatu pada orang yang tidak tahu terima kasih. nasehat itu sudah lama, belasan tahun usianya dan sangat membekas di ingatan gue.

 

sebagian dari diri gue merasa malu dengan sindiran menohok yang mempertanyakan ketulusan gue dalam memberi dan berbagi. apa sebegitu pamrihnya gue sampai menganggap ucapan terima kasih dan berbagai pujian dari sang penerima adalah bayaran yang pantas bagi pemberian gue? lalu apa tujuan gue memberi? karena ingin disebut santa? lha, kalau pemberian gue ternyata tidak berkenan di hati sang penerima, bagaimana? duh, benar-benar memalukan.

 

tapi di sisi lain diam-diam gue memprotes petuah sang sohib yang gue hormati itu. apa benar kita harus selalu menutup mata, telinga dan mulut bila pemberian kita disia-siakan? tidakkah kita berhak menegur malah kalau perlu menarik kembali pemberian kita yang diselewengkan? buktinya donasi-donasi besar seperti yang terjadi pada peristiwa tsunami Aceh butuh pertanggungjawaban rinci. 

 

lalu sampai sejauh manakah ketulusan hati membolehkan kita berpijak? hanya sampai proses pemberian itu usai berlangsung atau sampai pemberian kita digunakan hingga habis tak tersisa?

 

 

mumpung membahas soal tulus, gue sekalian mau mengucapkan Selamat Idul Fitri bagi yang merayakan dengan setulus hati. mohon maaf lahir batin.

Advertisements