cinta terajut petaka bagian 9

bagian 8:
Adi berada dalam dilema, Mama tak kunjung merestui cintanya pada Grace sedangkan Grace sendiri terus menjauh darinya. Bagaimana akhir kisah cinta Adi?

 

Grace berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Wajahnya pucat dan sorot matanya tampak muram. Kemarin sore ia kembali dilarikan ke rumah sakit setelah tidak sadarkan diri di kamar mandi. Yang terakhir diingatnya adalah warna air seninya yang merah. Ia tahu itu darah.

Kata Mama, suhu tubuhnya mencapai empat puluh satu derajat Celcius sampai ia mengalami kejang-kejang. Menurut dokter, kandung kemihnya mengalami infeksi.

“Grace, kau sedang memikirkan apa?” tanya Mama dengan lembut. “Apa perutmu masih sakit?”

Grace menggeleng perlahan tanpa menoleh.

“Kau masih kesal pada Mama, ya?”
“Apa kalian begitu takut melihatku kesepian sehingga harus memanfaatkan Adi untuk menemaniku?” Continue reading

Advertisements

cinta terajut petaka bagian 8

bagian 7:
Grace yang tidak jadi menikah dengan Raymond menolak kehadiran Adi kembali dalam hatinya. Akankah Adi menyerah begitu saja? Dan bagaimana tanggapan Mama Adi?

 

 

Mama Adi mengawasi anak semata wayangnya yang sedang mengaduk-aduk lemari bukunya. Ia tahu Adi sedang mencari buku untuk Grace. 

“Kau pasti mau pergi ke rumahnya lagi kan?” tanya Mama dengan curiga.

Adi mengangguk. Mama menghela napas.

Adi menoleh dan berkata, “Mama tidak usah khawatir. Sekarang mereka tidak menolakku lagi. Mereka menerimaku dengan baik.”

“Itu karena sekarang situasinya berubah. Sekarang kau dibutuhkan mereka. Apa kau tidak sadar kalau kau hanya dimanfaatkan mereka?”

“Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa bersamanya lagi,” sahut Adi sambil memalingkan wajahnya dan kembali berkutat buku-bukunya. “Mereka juga ingin berkenalan dengan Mama. Jadi kapan-kapan aku akan mengajak Mama ke sana.”

“Mama tidak mau,” sahut Mama dengan tegas. “Lagipula Continue reading

cinta terajut petaka bagian 7

bagian 6:
Grace akhirnya sadar juga namun akankah pertunangan dengan Raymond berlanjut ke pelaminan? lalu bagaimana dengan Adi?

 

Grace menoleh dan menatap Raymond dengan serius. Lalu ia melepaskan cincin yang dipakainya dan memasukkannya kembali ke dalam kotak.

“Aku akan baik-baik saja. Mas tidak usah khawatir,” ujar Grace sambil menaruh kotak itu ke dalam tangan Raymond.

Kata-kata itu diucapkan Grace dengan penuh kepasrahan dan ketabahan. Matanya menatap Raymond dengan tenang sedangkan mata Raymond malah mulai digenangi air mata.

“Sayang…”

Tangan Grace terangkat pelan untuk menghentikan Raymond bicara. Continue reading

cinta terajut petaka bagian 6

bagian 5:
Adi seperti mendapat firasat buruk di saat Grace sedang berjuang keras mempertahankan nyawanya. bisakah Grace selamat dan bertemu dengan Adi lagi?

 

 

“Dia menunggu di ruang rapat, Pak,” ujar Haswin sebelum ditanya.

Tanpa membuang waktu, Adi langsung menuju ruang rapat. Hanya seorang gadis yang diharapkannya muncul di kantor dekil ini. Namun raut wajahnya berubah menjadi kecewa begitu ia membuka pintu. Yang berada di dalam bukan Grace melainkan Inge.

“Adi, aku Inge. Kau masih ingat denganku kan?,” tanya Inge.

Bagaimana Adi bisa melupakan salah satu musuhnya? Wajah Inge tidak berubah, tapi ia tampak pucat dan letih.

“Masih. Tumben kau main kemari. Kantormu butuh konsultan…”

Adi berhenti bicara melihat mata Inge berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Firasat buruk langsung merajai hati Adi.

“Ada apa? Apa Grace punya masalah?” tanya Adi dengan cemas.

Adi tidak tahu mengapa ia langsung menanyakan tentang Grace. Namun Inge mengangguk dan mulai bercerita. Continue reading

cinta terajut petaka bagian 5

bagian 4:
Adi kembali patah hati. karena dia harus sekali lagi merelakan kepergian Grace. namun gadis yang hendak memulai babak baru dalam hidupnya itu ditimpa malapetaka yang mungkin melahap jiwanya…

 

 

Ignas tampak letih. Wajahnya pucat dan kedua tangannya gemetar. Ia masih mencium bau darah meski kaus yang dipakainya bersih tanpa noda darah setetes pun. Ia tidak berani memejamkan matanya karena pemandangan yang paling mengerikan dalam hidupnya pasti langsung terbayang.

Segera setelah mendengar teriakan Grace, Ignas terbangun dan keluar kamar sambil membawa tongkat baseball-nya. Dilihatnya dua orang keluar dari kamar Grace. Ia berlari mengejar mereka sambil terus berteriak ‘Rampok!’. Ia berhasil menggebuk punggung salah seorang dari mereka.

“Biar Papa yang jaga dia. Kau susul yang lain,” ujar Papa yang menyusulnya dengan suara terengah-engah.

Papa langsung menggebuk perampok yang terkapar itu dengan sandalnya lalu menginjak-injaknya dengan gemas. Ignas terus berlari keluar mengejar perampok satunya. Dilihatnya penjahat itu sedang melompati pagar. Dengan lantang Ignas kembali berteriak, “RAMPOK!!” Dalam waktu singkat para satpam komplek berdatangan dan meringkus perampok itu.

Ia baru saja hendak berlari keluar pagar untuk ikut menghajar perampok itu saat terdengar teriakan memilukan. Suara Mama! Ignas segera kembali masuk ke dalam rumah. Ia melihat Continue reading

cinta terajut petaka bagian 4

bagian 3:
Pertemuan tak disengaja dengan Adi tampaknya membuat Grace ragu dan tak langsung mengiyakan ajakan tunangan dari Raymond. Sementara itu dapatkah Adi meredakan rasa ngilu di hatinya?

 

 

“Adi?”

 Jantungnya langsung berdegup kencang.

“Grace?” tanyanya dengan sedikit parau.

“Ya. Kau belum tidur kan?”

“Belum. Kau sendiri?” tanya Adi setelah melirik angka 11:40 PM di sudut kanan bawah laptop-nya.

Grace tertawa lalu berkata, “Kalau aku sudah tidur ya tidak bisa bicara begini dong.” Ia menghela napas lalu melanjutkan, “Aku mau bertanya sesuatu.”

“Apa?” tanya Adi yang makin dag-dig-dug.

“Mengapa dulu kau melepaskanku begitu saja?” Continue reading

cinta terajut petaka bagian 3

bagian 2:
Inge cemas melihat perubahan pada diri Grace apalagi setelah tahu pertemuan dengan Adi yang menjadi penyebabnya. Apa sebenarnya yang dirasakan Grace usai berjumpa mantan pacarnya?

 

Grace memandangi kotak kecil di tangannya. Ia membukanya dan mengeluarkan sebentuk cincin platina bermata sederet lima berlian kembar. Sebuah cincin pertunangan yang mewah. Raymond yang memberikannya sepulangnya mereka dari jalan-jalan. Saat Grace hendak turun dari mobil, tangan Raymond menahannya. Grace sedikit bingung. Bukankah Raymond sudah menciumnya?

“Aku mau bicara sebentar,” ujar Raymond dengan pelan.

Grace menatap Raymond dengan heran. Tidak biasanya Raymond seserius ini. Apalagi ia tampak begitu tegang. Ia menggenggam tangan Grace sambil menatap mata kekasihnya dalam-dalam seperti sedang mencari sebutir mutiara yang terjatuh di dasar kolam.

“Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu.” Continue reading