Sejak Maut Memisahkan Kita

“Igan? Ini kau kan? Jangan diam saja. Gan?”

Sederet pertanyaan itu membuatku terlonjak kaget. Apa kedatanganku sudah menimbulkan kegaduhan hingga membuat sang pemilik suara halus itu terusik? Dan jantungku nyaris copot setelah menoleh ke arah sumber suara. Di sana, di puncak bentangan anak tangga yang bersusun-susun, istriku duduk dengan anggun bak seorang ratu dengan kursi roda sebagai singgasananya.

“Aduh, Sayang! Sudah berapa kali kubilang jangan menungguku di situ!” seruku sembari menghambur mendekat.

Kulompati dua anak tangga sekaligus dan dalam sekejap aku sudah berada di hadapannya. Kutarik kursi rodanya menjauh dari tangga.

“Kalau kau sampai jatuh, bagaimana?” tanyaku setengah mengomel setelah mengecup dahinya dengan lembut.

“Kau selalu bilang begitu. Aku tidak akan jatuh, Gan. Percaya deh.”

Continue reading

Advertisements

Lupa Diri

“Jangan nakal-nakal ya di rumah,” ujar Anton sambil menepuk kepala Ina. “Aku cuma pergi sebentar kok. Nanti aku bawa kejutan buatmu.”

 

Ina yang penasaran langsung memberondongkan sederet pertanyaan dengan nada manja, tapi Anton tak juga menjawab. Ia hanya bisa menghela napas memandangi mobil Suzuki Swift warna perak yang dikemudikan Anton melaju dan menghilang di ujung gang. Rumah bertingkat dua ini langsung terasa sepi. Selain Ina hanya ada Bik Suti. Papa-Mama sedang mengikuti reuni SMA mereka di Semarang.

 

“Pagi, Sayang.”

 

Ina langsung merengut. Dengan jengkel ia menoleh ke kanan. Dari balik tembok pembatas rumah muncul kepala tetangga barunya yang menyebalkan.

 

“Sayang, kenapa sih kamu nggak pernah merindukanku seperti kamu merindukan si ceking itu?” tukas Tio sembari memamerkan senyum manisnya.

 

Ina melengos. Sebenarnya Tio tampan dan gagah, tapi sering kurang ajar. Masa si brengsek ini berani menggoda dan merayunya di depan Anton. Yang menyebalkan meski ia sudah protes keras, Anton tetap memperlakukan Tio dengan ramah.

 

“Kenapa kamu masih terus berharap sama dia? Apa kamu lupa kalau kamu cuma Continue reading