right or wrong is my friend

sekali lagi gue ingin menumplekkan unek-unek tentang persahabatan.

begini, salah seorang teman sekantor memiliki kebiasaan buruk, menghambat pekerjaan teman lainnya. entah hobi atau kebiasaan atau kesengajaan atau memang ritme kerjanya yang lemot, dia selalu menyerahkan hasil kerja pada menit-menit terakhir tenggat waktu sehingga tidak ada banyak waktu yang kami miliki untuk mereview apa yang sudah dibuatnya. sindiran halus tak mempan karena kulitnya lumayan badak, tapi kami tak juga tega melabraknya dengan terus terang. karena dia seorang teman yang menyenangkan, pandai membuat kami tertawa kecuali saat-saat di mana dia membuat kami senewen. bayangkan, dia bisa menghilang selama 1-2 jam untuk istirahat ngudud dengan santai di saat semua orang kelabakan mencari-cari batang hidungnya.

kalian tentu bilang ‘kalau begitu sebenarnya dia bukan teman yang baik karena teman baik nggak bakalan nyusahin teman sendiri.’ memang, dalam hati pun kami menyadari hal itu, tapi kami terus menyabarkan diri, mencoba berharap ada keajaiban yang mampu membuat dia berubah. sayangnya hingga kini hal itu belum juga terjadi. ternyata bukan hanya cinta yang membuat manusia menjadi buta, tuli bahkan bisu, tapi persahabatan juga demikian.

seperti yang pernah gue tulis dalam entry sebelumnya, sahabat adalah salah satu harta yang berharga dalam hidup gue. dan sepertinya tidak cuma gue yang berpendapat demikian. sudah jamak bila kita mengistimewakan teman baik daripada teman biasa. ingat lagu nugie yang bagus itu? ‘teman baikku berkata gunakan aku uuuuu, tak perlu kau risau membayar pamrih yang tersirat.’

namun kadang keberpihakan emosional yang spesial ini menyebabkan kita tidak bisa bersikap obyektif & adil pada semua orang. kita biasanya jauh lebih sabar mendengarkan keluhan sang sahabat. malah kadang mengiyakan segala perkataannya meski tidak sepenuhnya benar atau jujur. rasa segan dan takut kehilangan hubungan baik membuat kita terus mengalah dan secara sadar maupun setengah sadar menjadi yes man bagi teman tercinta. intinya, orang lain boleh salah, tapi dia nggak karena dia teman gue.

salah seorang teman bilang ‘arti “SAHABAT” yang sebenarnya adalah TEMAN yang bisa mengingatkan kita disaat kita sedang khilaf, bukannya TEMAN yang membenarkan kesalahan kita.’ gue jadi mikir, kapan ya gue bisa menjadi seorang sahabat yang sesungguhnya… 

Advertisements

“friends are the family we choose for ourselves”

sering terjadi sahabat lebih kenal baik-busuknya gue daripada keluarga sendiri. karena buat gue, sahabat tak hanya sekedar pelengkap penderita di kala kesepian, penghibur di kala duka dan penggembira di kala suka, tapi jauh lebih dari itu. sahabat adalah live diary, tempat curhat interaktif sekaligus polisi yang berani menegur dan menjewer di kala kita sengaja menyesatkan diri. intinya, sahabat begitu berharga bagi gue  .

sayangnya, sahabat adalah harta yang paling sulit gue jaga. sudah berkali-kali gue kehilangan sahabat. ada yang hilang karena dibajak pihak lain, ada yang perlahan-lahan menghilang karena tersedot kesibukan dan ada pula yang sengaja melenyapkan diri karena salah paham yang berujung pada sakit hati  .

menurut pengamatan dan pengalaman gue, pernikahan adalah salah satu faktor utama penyebab hilangnya sahabat karena biasanya kita memposisikan sang partner hidup sebagai sahabat utama. belum lagi kesibukan mengurus anak yang begitu menyita waktu. bisa dimaklumi bila tak ada lagi waktu buat sahabat karena keluarga nomor satu. gue pun sudah mentahbiskan misua menjadi sahabat, tapi gue masih butuh teman bicara lain. tidak semua hal bisa dibagikan dengan pasangan hidup, some things are better left unsaid  .

untungnya, gue nggak cuma mengalami kehilangan karena sahabat yang telah pergi tergantikan oleh sahabat baru. terus begitu, sahabat datang dan pergi seturut waktu yang berjalan. gue bersyukur masih cukup banyak orang yang bersedia berbagi suka-duka dan mempercayakan rahasia hidupnya yang terdalam pada gue dan begitu pula sebaliknya.

meski demikian mencari dan mendapat sahabat baru pun tak mudah. bukan soal jenis kelamin, umur atau hal-hal yang menyangkut sara yang menyebabkan sulitnya mendapat sahabat baru melainkan proses untuk memperoleh kepercayaan mutlak dan kesesuaian irama hati.

gue menyadari betul kalau friendship maintenance gue lemah. wong kadang gue sendiri yang menyebabkan sahabat gue ngacir entah ke mana. lontaran kekecewaan dari sahabat apalagi pertengkaran selalu membawa gue pada introspeksi. “apa salah gue?” gue nggak ngerti apa lagi yang kurang dari gue mengingat gue sudah berusaha menjadi pendengar yang baik dan penasihat yang kritis.

lucunya, baru akhir-akhir ini gue menyadari betapa annoying-nya gue. rupanya cara gue menanggapi curhat itu terlalu outspoken. pertanyaan-pertanyaan gue lebih mirip interogasi polisi, terlalu detail sehingga kurang berkenan di hati lawan bicara terutama yang sedang sensitif dan bad mood. padahal gue hanya ingin membantu dengan cara mengetahui duduk masalah dengan benar, gue sama sekali nggak berniat menyakiti hati siapa pun  .

kepada sahabat-sahabat gue di mana pun kalian berada gue ingin minta maaf kalau gue malah menambah masalah bukannya memberi solusi. di bawah ini ada sebuah puisi pendek buat kalian. ini bukan karangan gue, tapi hasil copas entah dari mana

when you’re lonely,
i wish you love.
when you’re down,
i wish you joy.
when you’re troubled,
i wish you peace.
when things are complicated,
i wish you simple beauty
when things are chaotic,
i wish you inner silence.
when things look empty,
i wish you hope